Cerita aku yang terbakar
Cerita aku yang terbakar
Dada ini meledak keluar pergi meninggalkan raga, menarik semua urat saraf bertumpu pada satu titik, mengunci nafas yang menggebu layaknya banteng ketika marah. Ini amarah, yah amarah yang harus dilepaskan pada bumi yang tercabik, pada hutan yang ditelanjangi, pada karang yang dibongkar, pada langit yang dipaksa menghisap polusi.
Cerita aku yang terbakar
Kali ini jiwa memanggil ruh, sembari menanyakan "kapan nurani itu datang? ", setelah sekian lama terlantar dipinggir jurang tanpa dasar. Hakikat pun tak ada makna, segala bentuk entitas telah sirna pada rupa. Jeritan itu bertanda tangisan. Yah tangisan mereka yang tertindas.
Cerita aku yang terbakar
Disudut sana masih ada pencuri, mereka yang mengaku terhormat tapi membantai, mereka yang mengaku berpendidikan tapi menyengsarakan, mereka yang berkedudukan tapi tak bermartabat. Aku marah pada mereka.
Cerita aku yang terbakar
Ketika panas aku geram, ketika dingin tetap aku akan geram, aku akan selalu geram pada ketidakadilan, apapun situasinya.
cerita aku yang terbakar
Kini aku menulis sebagai pukulan pada sesama, sebagai senjata pada penguasa, sebagai akar dari konfrontasi ketidakadilan.
Aku terbakar dan akan terbakar pada semua ketidakadilan.
Tanah Jawa, Zulhaji Ismail


Komentar
Posting Komentar